|
Semarang, CyberNews. Gundukan sampah di Perumahan Bukit Kencana Semarang yang setiap hari bertambah satu hingga 1,5 ton, mulai teratasi menyusul beroperasinya pengelolaan sampah terpadu. Ketua Pokja Pengelolaan Sampah Terpadu Ch Ari Sulistyono di Semarang, Senin (19/2) mengatakan, pengelolaan sampah terpadu mampu mengurangi limbah rumah tangga hingga 60-65 persen, sedangkan 35-40 persen sisanya diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang Semarang. Pengelolaan sampah terpadu di Perumahan Bukit Kencana Jaya itu merupakan yang pertama di Jawa Tengah. Pengelolaannya melibatkan semua warga, karena sejak dari awal, rumah tangga harus melakukan pemilahan sampah menjadi tiga bagian, yaitu sampah organik basah (sisa makanan, sayur), kering (kertas, dus, botol), dan limbah berbahaya seperti aki dan baterai bekas, sprayer insektisida, serta pembalut wanita. |
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|
SURABAYA—MIOL: Pakar sampah dari Jepang mengajari warga kota Surabaya di seputar Universitas Surabaya (Ubaya) untuk mengelola sampah rumah tangga (RT) secara praktis. "Hal itu terkait dengan kerjasama antara Pemkot Surabaya, Pemkot Kita-khyusu, dan Ubaya," kata Humas Pusat Pemberdayaan Komunitas Perkotaan (Pusdakota) Ubaya, Alpha Savitri, Kamis. Di sela-sela seminar "Teknososial Pengelolaan Sampah Rumah Tangga" di Ubaya itu, ia menjelaskan pakar sampah dari Jepang yang dimaksud adalah Prof Koji Takakura dari JPEC Jepang. "Dia mengajari pengelolaan sampah rumah tangga dengan memasukkan sampah basah ke dalam keranjang sampah yang diisi sekam dan pupuk sehingga menjadi kompos secara otomatis," katanya. |
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|
Liputan6.com, Jakarta: Peduli terhadap lingkungan menjadi latar belakang sekelompok wanita di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos. Tak hanya itu, mereka juga rutin memberikan kursus pembuatan kompos. Tujuannya, untuk memasyarakatkan cara pengolahan sampah sekaligus menumbuhkan rasa cinta lingkungan.
Upaya ini berawal dari keprihatinan mereka terhadap lingkungan Ibu Kota yang semakin dipenuhi sampah sejak dua tahun silam. "Sekarang sampah organik, terutama rumah tangga di Jakarta begitu besar. Volumenya sampai 6.000 ton sehari. Semua itu bisa dikelola," kata Sri Murniati Djamaludin, pengelola tempat kursus bernama Kebun Karinda.
Murni--begitu ia biasa disapa--menuturkan, saat ini peserta kursus Kebun Karinda mencapai 4.000 orang. "Mereka terdiri dari anak muda, kecil, dewasa, dan lanjut usia," kata Murni. Kursus ini diadakan setiap Selasa dan Sabtu. Masing-masing peserta hanya dipungut biaya sekadarnya. Usai kursus, peserta bisa membawa satu pot kecil bibit tanaman dengan kompos sebagai media tanamnya.
|
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|